Selasa, 04 Agustus 2015

Bismillah

Bermula dengan memilih pasangan yang baik, untuk menghasilkan keturunan yang baik pula.


Jadi, hari ini sengaja ikut ngaji/kajian/pengajian *bebas pakai istilah apa* tentang "Membentuk Generasi Hebat dengan Sunnah" yang diisi oleh Ustd Syafiq Riza Basalamah, salah satu sosok yang berpengaruh di STDIIS *nulis gak pake baper, serius*
Banyak  banget pelajaran dan makanan yang di dapat dari pertemuan ini, meliputi peran lingkungan dalam membentuk karakter anak, lingkungan baik, perilaku orang tua,saudara, tetangga, sekolah maupun lingkungan lain jika memang baik maka akan Inshaa Allah terbentuk karakter anak yang baik juga, Apalagi di era heterogen saat ini yang awalnya dari pesantren ataupun asrama jika sudah selesai maka akan terjun dimasyarakat juga dan disitulah banyak godaan untuk karakter baik yang susah payah di bentuk sebelumnya. Menjadi sosok orang tua jangan suka menyalahkan zaman, zaman kan memang terus berkembang dan memang harus seperti itu tergantung kitanya apakah akan terbawa arus atau tidak. Menyoal pemilihan nama yang baik untuk anak, ya pake nama yang artinya baik jangan asal nyomot dari Al-Quran tapi nggak tau artinya. Membiasakan berdoa *dan ikhtiar* dalam segala hal untuk berlindung pada Allah dari mulai makan, dalam perjalanan, sebelum tidur dll. Ajari minta hanya kepada Allah. Ajari sholat, ajak shalat sebelum 7 tahun (angka 7 tahun subyektif tiap orang bisa kurang dari itu, bebas pokonya sedari dini) misalnya biasakan membangunkan untuk sekedar ikut shalat (melihat,mendengar, syukur2 ngikuti gerakan meskipun sambil nguap dan tolah-toleh) , mulai mengajarkan shalat sedari dini juga, shalat tepat waktu, diharapkan ibu-ibu sering shalat dirumah (wajib & sunnah) ANAK BISA KARENA TERBIASA.
Mengajari anak berkata baik (berawal dari ibu dan bapaknya dulu), mengajari mandiri misal meskipun ada pembantu ya tetep bantu-bantu, mengajari anak biar gak serakah. Istimewanya menjadi orangtua adalah harus mampu mengenali dan menghadapi berbagai karakter dan sifat anak-anaknya, menghadapi mereka dari bangun tidur sampe tidur lagi. Anak juga perlu pujian jika telah berbuat baik.

Pasti pemaparan yang saya usahakan ini kurang jelas, kalau ikut langsung pasti ngena banget di hati. Melihat fenomena mendidik maupun memperlakukan anak yang kurang baik, sungguh sangat memprihatinkan hiks. Sebenarnya masih banyak ilmu yang disampaikan tapi yaa namanya di Majlis ibu-ibu banyak banget yang bisa mengalihkan dari mulai ngobrolin kajian selanjutnya, ngeliatin ummahat lewat gendong anak bayi tapi yang ngekor ada 3 biji bikinpengen,  ngliatin bocah lucu-lucu pengen nanya ke ibunya gimana cara bikinnya ,  ngomongin kajian di ST***S mumpung ada yang ngajakin dan sampai akhirnya Ustd nya salam. Bagi yang berstatus calon ibu maupun calon bapak sebelumnya memang harus mengoreksi diri dulu sebelum memberikan pembelajaran untuk anak.

sekian, terimakasih... :) 

Senin, 03 Agustus 2015

Tidak perlu datang terburu-buru. Ambil waktu sebanyak yang kamu mau. Kamu boleh bebas menjajal semua keceriaan yang ditawarkan dunia, menjadi sedikit nakal sebagai pria, sebelum saatnya nanti kita saling menemukan mata lalu berhenti tanpa banyak bertanya.
Jangan khawatir saya meranggas dimakan sepi hanya karena harus bertahan sendiri. Gadis yang kelak kamu dampingi ini sudah khatam menghadapi semua hal yang menyayat hati. Saya tidak akan hancur hanya karena harus bertahan sebentar lagi.
Jangan datang terburu-buru. Datanglah saat memang siap dan mau. Sampai saat itu, saya akan sabar menunggu.

Bukannya tidak butuh ada yang mendampingi. Namun sedari dulu saya yakin bahwa membuka hati tak jauh beda dari sakralnya sebuah prosesi. Jika bisa, seumur hidup ia hanya dilakoni sekali. Pada orang yang memang telah dipilih dan diamini.
Saya tak pernah keberatan melakoni semua hal sendiri. Menjajal tempat makan baru, belanja, nonton, sampai memeriksakan diri ke dokter sering saya hadapi tanpa ada yang menemani. Apakah tidak sepi? Ah, picik sekali ‘kan kalau kita menghentikan hidup hanya karena hati belum ada yang mengisi?
Selama ini saya bertahan kokoh jadi makhluk solitary. Tapi jangan membayangkan hidup yang saya jalani ini sepi. Saban hari saya disibukkan oleh kegiatan menyusun balok-balok mimpi. Supaya kelak lebih ringan diajak berlari waktu kamu akhirnya mendatangi.


Sementara kawan-kawan saya mengeluhkan kesendirian mereka, saya justru menghadapi kenyataan dengan biasa saja (bohong.. :)). Hari-hari tetap saya jalani dengan wajar, target dan kesibukan terus saling mengejar. Saat rasa kesepian datang suara di belakang rasionalitas saya bersiul memanggil si tegar. Lalu kembali, keteguhan itu berpendar.
Lagipula kesendirian ini sesungguhnya tidak begitu mengerikan. Justru di dalamnya bisa saya temukan ruang eksplorasi dan kebebasan. Sebelum kamu tiba, saya bebas mencoba apapun yang saya suka. Mulai dari memulas muka, menjajal profesi yang membuatmu mengerutkan mata, sampai join ke social club yang mempertemukan saya dengan orang-orang baru yang tak kalah hebatnya.
Menunggumu, bagi saya, tak jauh beda dari proses meditasi. Dalam tiap hela nafas yang saya tarik ada keheningan yang mengantar saya menemukan diri sendiri. Kamu memang belum di sini. Namun kamu pula yang membuat saya mengenal sisi paling jujur dalam diri, bahkan sebelum memutuskan berhenti mencari.


Saya sudah terbiasa menyirami hati dan harapan-harapan baik yang saya siangi sendiri. Menaburkan beberapa jumput pupuk jika memang mereka sudah tampak tidak sehat sekali. Lalu menunggu dengan sabar sampai kebaikan muncul dari hal yang saya tanam selama ini.
Kamu tak perlu khawatrir pada hati dan keyakinan saya jika dibiarkan menunggu terlalu lama. Saya pastikan, mereka tak akan meranggas di bawah sana. Justru mereka kini sedang segar-segarnya, menunggumu tiba untuk menyemainya.
Datanglah di saat paling tepat menurut semesta. Saya tak akan memaksamu atau mendikte Tuhan agar waktu itu segera tiba.
Sampai nanti kamu datang, saya berjanji akan bertahan.

Conclusion

Sedikit pelajaran yang dapat diambil dari kelas perdana KLIK yang saya ikuti...
Semoga bermanfaat....*janganbosenbacanya*

Jika yang melamarmu bukan si dia?

Pada dasarnya, wanita itu menunggu. Umumnya wanita itu dilamar, enggan melamar.
Ya, mungkin sebagian dari kita sepakat mengenai kedua hal itu. Meskipun Islam tidak melarang seorang wanita untuk melamar atau mengajukan diri lebih dulu, namun kebanyakan dalam masyarakat kita hal itu masih dianggap tabu.
Sahabat akhawat, pernahkah kita terpikirkan mengenai beberapa pertanyaan. “Bagaimana jika yang melamarmu bukan si dia, seorang yang engkau dambakan?”. Akankah kita menolak yang datang dan terus menunggu ia yang kita dambakan itu?. Sampai kapan kita akan menunggu? Lalu bagaimana jika kita sudah menunggu namun akhirnya ia menikahi akhwat lain? . Hmm.. sulit rasanya untuk menjawab pertanyaan ini. Lantas bagaimana jika hal itu memang terjadi pada kita?

Akhwatfillah, saya menyadari sebagai seorang akhwat tentunya kita pernah sekedar menyukai,tertarik atau bahkan mendambakan seseorang yang akhlak dan agamanya baik di mata kita dan orang yang mengenalnya ,menjadi pendamping kita kelak. Menurut saya hal itu manusiawi dan fitrahnya kita sebagai manusia. Tak jarang saya pun mendengar dan pernah, tak sedikit dari mereka ataupun saya yang menyebutkan sebuah nama dalam setiap munajat malamnya. Ya, membisikan satu nama pada Rabb-nya, mengharap, mendamba dan meminta agar kelak Allah jodohkan dengannya, agar Allah tuntun langkah itu menemuinya.

Bagi saya itu tidak salah, toh kita meminta pada Sang Maha Pemilik segalanya, pada Allah Yang Maha Membolakbalik hati manusia, pada Allah sang Penggenggam jiwa. Bagi saya hal itu sah saja (bukan pembelaan diri lhoo yaa) jika niatannya hanya untuk mencurahkan apa yang membelenggu kita agar tidak terjerumus pada perilaku yang nista. Meskipun terkadang terbersit tanya, “tidakkah do’a itu terlalu ngotot dan mendikte?” “Bolehkah berdo’a demikian?” Hmm.. Allahu’alam saya belum mengetahui ilmu mengenai hal itu.

Kembali pada beberapa pertanyaan di awal.
“Bagaimana jika yang melamarmu bukan si dia, seorang yang engkau dambakan?” Jawabannya simpel, kita pastinya merasa terkejut dan sedikit kecewa karena yang didamba tak kunjung tiba meminta. Kita pasti bertanya “Mengapa yang datang bukan ia, seseorang yang selalu kusebut dalam do’a?”.

Akhwatfillah, perlu kita sadari betul bahwa meskipun kita sering menyebut sebuah nama dalam setiap do’a kita , itu tak berarti ia akan menjadi jodoh kita. Karena bisa jadi ia yang datang padamu memang bukan orang yang senantiasa kau sebut dalam do’a, melainkan orang yang selalu menyebut namamu dalam do’anya”
Akankah kita menolak yang datang dan memutuskan menunggu ia yang kita dambakan itu?. Semua ada pada keputusan kita, pilihan kita. Jalan manakah yang akan kita ambil?. Namun bagi saya, meski tak memungkiri mungkin cukup sulit juga , saya akan BERUSAHA lebih memilih untuk menerima siapapun yang datang jika memang yang datang itu layak untuk diterima (baik agama,akhlak,dll). Karena ketika kita menolak yang demikian, dikhawatirkan akan timbul fitnah. Rasulullah SAW bersabda :
“Jikalau datang kepada kamu, orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya. Maka nikahkanlah dia, kalau tidak. Akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan besar.”

Lalu pertanyaan selanjutnya ialah, Sampai kapan kita akan menunggu?, ya, sampai kapan kita akan berdiam diri dalam ketidakpastian, dalam suatu perkara yang masih kabur kejelasannya. Sampai kapan kita akan menunggu orang yang belum tentu ia adalah jodohmu, menunggu seseorang yang belum tentu memilihmu bahkan mungkin tak sedikitpun tertarik padamu. Nah jika sudah seperti itu, maka pertanyan selanjutnya lagi ialah bagaimana jika kita sudah menunggu namun akhirnya ia menikahi akhwat lain?. Sebenarnya tidak gimana-gimana (toh  dia pun tidak pernah minta ditunggu), ketika kita mengambil suatu keputusan tentunya kita harus sudah siap dengan segala kemungkinan dan konsekuensi yang akan muncul bukan?. Jika ia menikahi akhwat lain padahal kamu sudah menunggunya lama sekali, itu bukanlah kesalahannya. Tidak sedikitpun kita pantas untuk membencinya, apalagi membenci akhwat pilihannya, toh selama ini ia tak tahu bahwa ada kamu yang menunggu bukan? Dan apa hak kita untuk melakukan hal itu? Jika sudah seperti ini pasti ujung-ujungnya kita akan menyesal. Ya menyesal terlebih jika kita mendengar kabar bahwa ikhwan yang pernah kita tolak demi menunggu yang belum pasti itu telah berhasil,keluarganya sakinah,mawaddah dan rahmah. Sedangkan kita?

Akhwatfillah, memang saya pun menyadari betul bahwa jodoh itu takkan tertukar. Allah telah menetapkan jodoh bagi kita jauh sebelum kita terlahir ke dunia dan saling mengenal satu sama lainnya. Dan saya pun sepakat bahwa kita memiliki hak untuk menolak maupun menerima. Maka dari hal itu, apa salahnya kita mencoba berikhtiar? Ya, mencoba menjalani proses yang seharusnya dilaksanakan. Toh saya percaya, jika memang bukan orang itu yang Allah tetapkan untuk kita, pasti ada saja jalan Allah yang menjadikan jalan itu berakhir sebelum tahap pernikahan. Dan kita pun harus meyakini, se-tidak maunya kita, bagaimanapun kita menolak, meski kita pernah mengatakan tidak, jika Allah sudah berkehendak dan berencana, Allah pasti membolak-balikan hati kita jika memang orang itu pilihan terbaik-Nya untuk kita.

Saya menjadi teringat kembali akan sebuah pesan nasihat : “Kalau kebetulan semuanya bagus, baik din,akhlak dan muamalahnya, apa nggak sayang melepasnya? Pikirkan juga kemungkinan-kemungkinan. Belum tentu nanti ada ikhwan dengan agama sebaik ikhwan yang memintamu pertama kali”

So, ketika yang melamarmu bukan si dia? Jangan risau, jika yang kita dambakan itu telah tertulis di Lauhul Mahfudz untuk kita, dengan siapapun dulu kita berproses dalam rangka ikhtiar toh akhirnya in syaa Allah kita akan bersamanya, tentunya dengan rencana Allah Yang Maha Dahsyat dan Maha Indah.


Menyimpulkan sedemikian panjang perlu berperang dengan perasaan yang dirasakan selama ini, tapi pelan-pelan memanglah harus berbesar hati. Terimakasih atas pelajar yang diberikan selama ini, Aku kembalikan kamu pada Allah.

*terima kritik, saran maupun diskusi apalagijodoh  hehe*

Minggu, 02 Agustus 2015

Assalamualaikum



Sudah lama sekali akun ini dibekukan,dengan berbagai alasan.
mencoba kembali berbagi pengalaman, semoga bermanfaat...

baru-baru ini aku direkomendasikan oleh seorang teman untuk mengikuti sebuah acara, entah dengan alasan apa padahal kami pun nggak terlalu deket. Nama acaranya KLIK (Klinik Nikah). Ini bukan biro jodoh lohyaaa, ini kayak kuliah intensif pra dan pasca nikah. Materinya dari tahap pemilihan jodoh sampe cara mendidik anak dan management keuangan. Disini niatnya belajar bukan nyari jodoh, tapi klik juga menyediakan pendampingan untuk yang siap menikah dari mulai proses ta'aruf nya sampe khitbah setelah itu tersera anda hehe. Sudah dua kali pertemuan dan fix acara ini bikin baper (bawa-bawa perasaan). Gimana gak baper, liat peserta senior yang berhasil menemukan jodohnya hingga akhirnya menikah, materinya juga bikin merinding padahal baru sampe tahap pemilihan jodoh sama pengisian form proposal nikah. 
Dari 2x pertemuan banyak banget pelajar yang di dapat, yang sekiranya bisa membesarkan hati bahwa sendiri tak seburuk yang dikira, bahwa sakit ditinggalkan tak segalau yang dibayangkan dan bahwa men JOMBLO tak sehina yang orang katakan.

  • Jangan cari sebuah sosok tapi cari spek dong dikira mau beli hape kalee
  • Putus dulu ya biar nanti ngeliatnya bisa nikmat kalau jodoh
  • Ta'aruf visinya untuk menikah, tapi kalau kenalan ya cuma menyenangkan syahwat
  • Ta'aruf bukan kedok pacaran syar'i
  • Ta'aruf untuk yang siap nikah bukan untuk yang ingin nikah
  • Nikah kan butuh ilmu bukan otodidak
Kurleb (kurang lebih) pelajaran yang didapat  tentang :
  • Sumber informasi
  • Informasi yang harus digali
  • Cara PDKT
  •  Syarat informan
  • Adab Ta'aruf 
  • Kecerobohan saat Ta'aruf
Kalau ada yang mau ditanyakan silahkan tinggalkan jejak, yook sama-sama belajar dan memantaskan diri.



Minggu, 29 Maret 2015

Ya Allah yang maha kuasa...
Jika ini caraMu untuk menutupi aibku dari penglihatan orang lain,
Jika ini caraMu untuk membuatku lupa akan kenangan masa lalu yang kelam dan penuh dosa,
Jika ini caraMu untuk menghadirkanku suatu hal yang lebih baik,
Jika ini caraMu untuk mengajariku selalu berprasangka baik,
Jika ini caraMu untuk menempa kesabaranku,
Jika ini caraMu untuk melapangkan hatiku,

Maka
Beri hamba yang terbaik menurut versimu,
Tolong bukakan pintu-pintu kemudahan bagi urusan hamba,
Beri hamba kesabaran tiada batas,
Jadikan hamba pribadi yang selalu berprasangka baik atas peristiwa yang Kau kehendaki,
Beri hamba kelapangan hati yang luas atas semua kehilangan yang Kau kehendaki

Aamiin...


Minggu, 22 Maret 2015

Buronan nafsu (makan)

Biodata :
Nama : es Ari
Warna : (bisa) cokelat atau putih
Rasa : manis, seger
Isi : es serut, sukenis (susu kental manis), adonan kacang hijau, dan ketan hitam
Tempat : gelas plastik



Awalnya iseng baca review artikelnya Jember Banget tentang kuliner jemberan dan tertarik dengan yang namanya as Ari. Saking penasarannya sama es ini sampai seminggu lebih nungguin bapaknya jualan lagi. Akhirnya hari ini beruntung bisa nemuin es ini, ya meskipun dengan suasana romantis (a.k.a mendung) tapi tak apa tetep yang namanya es bikin suasana indah. Oke, cerita soal esnya ini namanya es Ari, entah namanya diambil dari nama penjualnya atau nama anaknya, atau mungkin kacang hijau yang digunakan tanpa mengikutkan kulit Arinya *mulaingawur*. Es ini isinya es serut, sukenis, ketan hitam sama adonan kacang hijau. Disini adonan kacang hijaunya mirip sama adonan isian onde-onde. Jadi lapisan paling bawah diisi es serut, adonan kacang hijau, ketan hitam, es serut lagi, sukenis, es serut lagi dan terakhir sukenis. Menurutku isian ketan hitam dan kacang hijau enakan gak diaduk jadi satu biar bisa ngerasain sensasinya masing-masing. Ini es memang terlalu Creamy buat yang gak maniak kacang hijau tapi apa salahnya dicoba ya kan, masih ada nikmatnya ketan hitam kok. Es ini di bandrol 7.500,00 full team (gelas plastik + tutupnya, es serut, adonan kacang hijau, ketan hitam dan sukemi) *plussenyumandaripenjualnya* Es ini bisa ditemukan di jl.kalimantan, hanya di sana. muter-muter nyari yang sama ternyata gak ada sejember. Silahkan dicoba :)

Selasa, 10 Maret 2015

Assalamualaikum...
berasa sudah lama sekali nggak posting tulisan asal, semenjak puncak kegalauan yang bisa dikatakan nggak wajar #sudahlah

Alhamdulillah atas "tamparan" yang telah dikasih Allah, perlahan membuat pendosa ini mulai berbenah, ya berbenah diri, hati, dan iman. Mulai istiqamah mendekati Sang pembolak-balikkan hati. Belum juga seminggu mulai mencoba berhijab dibawah pundak, sudah banyak yang melontarkan celetukan-celetukan yang saya anggap sebagai penyemangat hijrahku, mulai dari:
-Assalamualaikum, Ukhti..
-ciyee yang jilbabnya sudah panjang
-Anak pondok.an dari mana itu, awas kena ISI* loh
-kamu tak liat jilbabnya syar'i2 gitu

Bukannya memang muslimah bisa di panggil ukhti ya? panggilan ukhti bukan hanya untuk yang berhijab syar'i, bercadar, pendakwah dll. kalian juga boleh2 saja dipanggil ukhti.
Jilbab panjang? bukannya memang di perintahkan menjulurkan jilbab kita. disederhanakan juga. Pakaiannya dilonggarkan.
Ya memang Alumni Pondok Pesantren, yang pakaiannya longgar, kerudung panjang dan menutup dada. Menurut pengalaman dan pengamatan, tidak sedikit alumni pondok yang pakai celana ketat, jilbabnya lepas-pasang, pakaian terawang dan ketat. (ditegaskan: "menurut pengalaman dan pengamatan").
Kalau dibilang syar'i saya rasa masih jauh dari kata itu, doakan saja istiqamah menjadi lebih baik.