Jumat, 12 Desember 2014

Anak Kost: Sebuah Puisi

Hidup anak kost itu penuh seni.
Seni hidup sendiri.
Seni menabahkan hati menghadapi teman kost yang suka menang sendiri.
Seni mencukupkan diri dengan uang bulanan yang terasa makin sedikit dari hari ke hari

Jumat, 05 Desember 2014

Kuakui. Sesekali pikiranku melayang begitu saja ke suatu tempat yang kuharap bisa dinamai “Kita”

Hipwe-Orang bilang pengharapan adalah sumber sakit hati yang paling tak terelakkan. Dan aku, adalah orang keras kepala yang rela pasang badan untuk menerima sakit yang kelak berdatangan. Jujur, aku sering membayangkan bagaimana rasanya jika kelak kita bisa bersama. Menyatukan 2 ke-aku-an kita jadi satu “kita” yang tak terpisah spasi dan jeda.
Sesekali aku suka mengamatimu yang sedang sibuk dengan gawaimu. Aku juga sering mencuri pandang waktu kau terlihat serius menggigit roti. Andai, aku berani menghentikan waktu. Menemani jenuhmu yang mungkin saja tiba-tiba menyerang.
Jika “kita” itu memang ada. Kuharap, langkah yang kuambil saat ini memang mengarah ke sana. Kau memang selalu mengisi pikiranku. Aku ingin melakukan ini dan itu. Tapi pada akhirnya jalan terbaik menurutku adalah diam, mengamatimu, sembari terus membawa namamu dalam dawai-dawai doa nan bisu.

Menyayangimu tanpa pernah mengungkapkannya — membuatku tahu: cinta yang paling baik adalah cinta yang tetap sederhana

Hipwee--Sebelum jatuh hati padamu tanpa rencana, kupikir cinta selalu dipenuhi cokelat-warna pink-dan bunga. Aku tak pernah sadar bahwa sebaik-baik cinta adalah rasa yang tetap membumi dan sederhana.
Waktu itu, menghadirkan apa yang kamu perlukan, meng-ada-kan yang akan kamu makan dan memuluskan perjalanan hidupmu sampai awal bulan.
Melihatmu dalam titik hidup yang paling rendah membuatku tahu. Kebahagiaanku bukan semata bersumber pada keberhasilan untuk memilikimu. Melihatmu cukup dan genap saja sudah membuatku mengucap syukur yang tak ada habisnya. Bisa memilikimu adalah bonus dari sekian banyak rapal doa yang tak pernah alpa kukirimkan di penghujung-penghujung malam.
Jika toh aku harus merelakanmu, paling tidak aku pernah mengusahakanmu dalam pengharapan.

Bersama atau tidaknya kita nanti, kau tetap perlu tahu. Kehadiranmu tak pernah kusesali. Keberadaanmu mengajarkanku banyak hal yang harus kusyukuri

Sebagai manusia biasa, tentu aku ingin kita bisa bersama. Sudah terbayangkann betapa menyenangkannya hari-hari waktu kamu selalu bisa ditemukan di sisi. Tapi jika pun rencana dan harapan itu tak terwujud, keberadaanmu tak pernah kusesali.
Kau mengajarkanku bahwa cinta adalah perkara memberi. Menjadi sebaik-baik pribadi, tanpa perlu khawatir apakah kasih yang sebesar itu akan kembali.
Kehadiranmu membuatku percaya. Bahwa cinta selalu berada di bawah tanganNya yang paling kuasa. Beberapa hal perlu diusahakan, namun hasil akhirnya hanya butuh diserahkan.
Mencintaimu dalam diam sekian lama membuat mataku terbuka: begitu banyak bentuk usaha yang bisa dilakukan di luar merayu dan mengobral janji manis belaka.

Terima kasih, sudah pernah ada. Terima kasih atas pelajaran yang kau bawa tanpa harus mencekokiku dengan ceramah yang berentet panjangnya.
Jika kelak kita bersatu, tak perlu kau khawatir. Kau mendapatkanku, orang yang selama ini dalam diam terus mendoakan berbagai kebaikan untukmu.
Namun jika takdir kita memang bukan jadi satu — kau pun harus camkan ini dalam kepalamu. Doa-doa itu tak pernah hilang. Apapun yang terjadi, kamu tak akan kehilangan seorang pemohon kebaikan yang handal.
Selamat melanjutkan perjalanan. Semoga kelak kita bertemu di satu persimpangan yang memang telah tertakdirkan.

sekilas tentang sifat Introvert

keahlian bicara bukan kartu truf para introvert, kemampuan menulis para introvert biasanya di atas rata-rata

Hipwe--Menjadi introvert gak menjadikan mereka sebagai orang yang punya skill komunikasi yang buruk sama sekali, lho. Melalui tulisan, seorang introvert akan lebih jelas dan sering mengekspresikan apa yang ada di dalam kepalanya. Di tengah dunia yang makin tergila-gila dengan teknologi, kebiasaanya untuk menulis mungkin terlihat kuno. Namun percayalah, dengan skill menulis yang memadai orang introvert justru bisa berkomunikasi dengan jelas dan langsung pada intinya. Pemimpin introvert cenderung menyukai menulis daripada berbicara. Kenyamanannya untuk menulis seringkali menghasilkan elaborasi sebuah hal dengan lebih jelas

Terbiasa bekerja sendirian, orang introvert sudah pasti bisa diandalkan

Ketika banyak orang takut mengerjakan apa-apa sendirian, mereka yang introvert justru menikmati bekerja sendiri. Kesendirian akan memberinya kesempatan buat tenang dan lebih fokus. Selain itu, orang introvert sangat menyukai kesendirian karena mereka menyukai introspeksi diri, melihat diri sendiri untuk mencari kekurangan dan memperbaiki diri.
Introvert punya kekuatan dari dalam dirinya untuk melahirkan ide, perspektif baru dan solusi. Waktu yang tenang saat menyendiri sangat penting untuk melahirkan ide baru bagi mareka. Kemampuan unggulan mereka yang introvert adalah level fokus yang tak tertandingi. Saat orang lain mudah terdistraksi oleh video lucu di Youtube atau Facebook, orang introvert bisa lebih tetap fokus pada pekerjaan mereka

 

Sebagaimana es, kepala mereka akan tetap dingin di tengah suasana yang panas

Introvert punya energi yang menghadirkan ketenangan, bukan meledak-ledak seperti ekstrovert. Dalam percakapan yang memanas, introvert gak memaksakan diri untuk ingin didengar. Mereka tetap berada pada zonanya, tenang dan menyimak.
Lalu bagaimana dengan kepemimpinannya jika dia hanya diam? Diam bukan berarti mereka tidak paham apa-apa. Justru yang dibutuhkan adalah kehadirannya yang menenangkan suasana.
Pemimpin introvert akan sebisa mungkin menjaga kepala dinginnya. Di tengah keadaan paling mereka justru menampilkan tenang, percaya diri dan meyakinkan. Seperti Presiden Obama, orang introvert tetap bicara dengan perlahan dan lembut meskipun suasana semakin panas

 

Minggu, 16 November 2014

KKN (kuliah kerja nimbrung)

Apa sih esensinya program kampus ini, bukannya program ini dibuat dengan niat baik kan? Yang awalnya kuliah di fakultas masing-masing, kemudian dipertemukan untuk kerja bareng dan pada akhirnya di harapkan bisa nimbrung bareng (terjaga silaturrahminya). Kkn nya sih uda lewat, kok ya msih nyisa aja dendamnya, nganggep temen sekelompoknya benalu lah, nganggep dapet kelompok tersebut adalah sebuah mimpi buruk. Meskipun cuma jadi penonton, tapi keikut gemes liatnya. Tinggal satu atap selama 45 hari yang lainnya malah bisa timbul rasa sayang (salahfokus) nah ini malah lebih dari setengah perjalanan njalani perang dingin. Beda orang juga wajar kalau beda karakter, perselisihan sih wajar tapi bukannya memaafkan lebih indah? Dari kesemua anggota kkn desa kami cuma temen satu fakultasnya aja yang dianggap bisa berkompromi. Kalau di fakultasku mah orang begituan disebutnya apatis. Malah ada celetukan dari anggota lain, orang begituan mah gak pantes jadi anak fakultas sosial, gak open minded. Urusan sama wanita sih emang gini, ribet. Masalahnya selesai dendamnya berkepanjangan (gak semua sih). Semoga kita jadi wanita yang gampang memaafkan, memaklumi hal baik dan rajin jaga silaturrahmi.

Sabtu, 01 November 2014

Kepada kamu

 Agak segan sih mosting beginian kalau gak ada feedback, ah yang penting ini postingan bagus dengan beberapa perubahan...

Kepada kamu
Dengan penuh kebencian
Aku benci jatuh cinta
Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak 
selalu menebak-nebak

Aku benci deg-degan menunggu kamu online .
Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa.
Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa.
Mudah-mudahan itu benar.


Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu
begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata.
Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan,katakan,kirimkan,tuliskan ke kamu menjadi penting,seolah-olah harus tanpa cacat,atau aku bisa jadi kehilangan kamu.


Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu.
Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu.
Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika ataukah pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri?


Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain,
atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada,
menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah.


Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur.
Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu mendekatkan bahumu padaku, saat aku mencoba untuk melihat sesuatu di ponsel yang sedang kamu pegang.
Oh, aku benci kenapa ketika raga kita bersentuhan,
aku tidak bernapas,
aku merasa canggung,
aku ingin berlari jauh.
Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu¦, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.


Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan,
Hey! Ini hanya kedekatan pertemanan saja, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya
anything in common, harus dimentahkan oleh hati yang berkata,
Jangan hiraukan logikamu.


Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu.
Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa
saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.


Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu.
Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu.
Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini, di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul didalam dan meletup pelan-pelan, aku bukan siapa-siapa.